div>

Senin, 09 Maret 2026

TITRASI ASAM - BASA

I.  TUJUAN : Menentukan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam cuka dapur 

II DASAR TEORI :

Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa) Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrat” dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titran” (larutan standard) dan biasanya diletakkan  dalam Buret. Baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Pada saat titik ekuivalen, mol ekuivalent asam akan sama dengan mol ekuivalent basa.

mol ekuivalen asam = mol ekuivalen basa
mol  H+ = mol  OH - 
Va x Ma x a = Vb x Mb x b
keterangan :
Ma = Molaritas asam
Mb = Molaritas basa
Va = Volume asam
Vb = Volume basa
a   = Valensi asam (
jumlah H+)
b   = Valensi basa (jumlah OH-)

III. ALAT DAN BAHAN :
ALAT :
1.   Gelas ukur 10 ml
2.   Labu ukur 100 ml
3.    Pipet tetes
4.   Labu Erlenmeyer
5.   Buret
6.   Statif & klem
7.   Corong
BAHAN :
1.      Cuka dapur di pasaran
2.      Larutan NaOH 0,1 M
3.      Indikator PP

IV. CARA KERJA : 

1.  Catat merk asam cuka dan kadar(%) cuka pada label botol.

2.  Ambil 5 ml cuka dengan gelas ukur dan tuangkan ke dalam gelas kimia.

3.  Encerkan cuka tersebut 20 X dengan menambahkan air hingga volumenya mencapai 100 ml, aduk larutan cuka hingga merata.

4. Ambil 20 ml cuka yang telah diencerkan tersebut dan tuangkan ke dalam labu Erlenmeyer. Tambah 3 tetes indikator PP.

5. Isi buret dengan larutan standart NaOH 0,1 M hingga titik 0 (bagian atas)

6. Buka kran buret pelan-pelan teteskan NaOH 0,1 M hingga larutan tepat mulai berwarna merah muda. Goyang Erlenmeyer hingga warna merah muda permanen.

7. Ulangi percobaan tersebut sebanyak 3X , hitung volume rata-rata NaOH dan lakukan perhitungan !


V. HASIL PENGAMATAN :

VI.  PERTANYAAN :

1. Mengapa dalam titrasi ini menggunakan indicator PP ?

2. Tentukan konsentrasi asam cuka (CH3COOH ) diencerkan !

V cuka x M cuka(diencerkan) x jml H+ = V(rata-rata) NaOH  x M NaOH x jml OH-

M cuka (diencerkan) = …….

3. Tentukan konsentrasi asam cuka (CH3COOH ) sebelum diencerkan !

( Ingat ! asam cuka diencerkan 20 X )

     M cuka (sebelum diencerkan) =  M cuka (diencerkan)  x 20

     M cuka (sebelum diencerkan) = ..........

4.  Tentukan kadar (%) asam cuka merk ….....

     Diketahui : M cuka murni = 17,4 M

               % Cuka = ...........

5. Tulislah persamaan reaksi yang terjadi pada titrasi tersebut ?


VII. KESIMPULAN
Buatlah kesimpulan dari hasil perobaan tersebut !

VIII. Buatlah Kurve titrasi CH3COOH dengan NaOH tersebut !

No

Volume

Cuka ..... M

Volume

NaOH 0,1 M

pH

1

20 ml

0 ml

….

2

20 ml

10 ml

….

3

20 ml

15 ml

….

4

20 ml

20 ml

….

5

20 ml

25 ml

….

6

20 ml

30 ml

….

7

20 ml

35 ml

….

8

20 ml

40 ml

….

9

20 ml

45 ml

….

10

20 ml

50 ml

.…



KLIK :

Selasa, 21 Oktober 2025

SIFAT - SIFAT ALKANA

A. Sifat Fisika Alkana

1.  Semua hidrokarbon merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air.

2.  Hidrokarbon mudah larut dalam pelarut organik seperti CCl4 atau atau sedikit  polar (dietil eter atau benzena).

3.  Semakin bertambah jumlah atom C maka Mr ikut bertambah akibatnya titik didih dan titik leleh semakin tinggi.

4. Pada jumlah C yang sama, hidrokarbon rantai lurus mempunyai titik didih lebih tinggi dibanding alkana rantai bercabang. Semakin banyak cabang, semakin rendah  titik didihnya.  

5. Pada suhu dan tekanan biasa, empat hidrokarbon yang pertama :

C1 sampai C4  berwujud gas contoh LPG, gas alam dll

C5 sampai C17 berwujud cair contoh bensin, solar, oli dll

C18 ke atas padat contoh lilin, malam, aspal dll

B. Sifat Kimia Alkana

Alkuna adalah yang paling reaktif diikuti oleh alkena dan alkana. Adapun reaksi-reaksi Hidrokarbon adalah sebagai berikut :

1Reaksi Oksidasi/ reaksi pembakaran ( + O2)

Reaksi pembakaran sempurna hidrokarbon menghasilkan gas CO2 dan H2O sedangkan pembakaran tidak sempurna menghasilkan gas CO dan H2O, dll. Contoh :

 Reaksi pembajkaran sempurna :

CH4(g) + 2 O2(g)  CO2(g) + 2 H2O(g) + Energi

 Reaksi pembakaran tak sempurna :

    2 CH4(g) + 3 O2(g)  2 CO(g) + 4 H2O(g) + Energi

2. Reaksi Subtitusi (halogenasi)

Reaksi penukaran atom H pada alkana dengan atom halogen (F2, Cl2, Br2, dan I2), maka atom-atom H pada alkana mudah mengalami substitusi (penukaran) oleh atom-atom halogen.

CH4 + Cl →  CH3Cl + HCl

CH3Cl + Cl2  →  CH2Cl2 + HCl

CH2Cl2 + Cl2  →  CHCl3 + HCl

CHCl3 + Cl2  →  CCl4 + HCl

3. Reaksi Eliminasi

Reaksi eliminasi adalah reaksi penghilangan atom H untuk memperoleh senyawa karbon berikatan rangkap. Contoh :

CH3−CH3    CH= CH2 + H2

4. Reaksi Cracking

Reaksi pemecahan katalitik hidrokarbon pada suhu tinggi menghasilkan fraksi hidrokarbon yang lebih kecil. Contoh :

C12​H26​ C5​H12​  +  C7​H16


LATIHAN SOAL

Tulislah reaksi-reaksi berikut dan nama hasil reaksinya :

1. Reaksi pembakaran : 

a. C5H12--------b. C3H8------c. C10H22------d. C9H20-------e. 3,3-dietil-2-metil heksana------f. 2,4-dimetil-3-tersbuti heptana------===---------g. 3,3-dietil heksana

2. Reaksi subtitusi : 

a.  C5H12 dengan Cl2

b.  C7H16 dengan I

c.  2,3-dimetil pentana dengan Br2

d.  4-isopropil-4-metil oktana dengan Cl2

e.   3-etil-2,2-dimetil pentana dengan F2

3. Reaksi eliminasi : 

a. C6H14 

b. C8H18 

c. C4H10